Akhirnya Aku Menemukanmu “HAFARA”

Allahu Akbar, Subhanallah…Kemarin aku dan Shafitri datang ke base camp Hafara (Teater Jalanan di daerah Gonjen), setelah pernah 1 jam aku muter-muter ga ketemu tempatnya. Namun kini, akhirnya aku berhasil sampai dengan selamat (dasar Lebai) karena kami janjian sama Mas Taufik (pelatih teater dari ISI anggota SOBAYA) bertemu di perempatan Madukismo agar kami tak tersesat LAGI.

“Mbak Primaaaaa” sambut Dina sambil menyalami tanganku ketika berjumpa denganku… Ada rasa bahagia dan terenyuh ketika mendengar sapaan hangat dan melihat senyum mengembang dari wajah gadis kecil itu. Ya…sudah 2 bulan sejak pertemuan terakhir di tempat kkn-ku di Sintokan, Cangkringan untuk tampil dalam pementasan drama “Kambing Hitam”. Mereka anak-anak Jalanan dan kurang mampu yang dibina oleh SOBAYA melalui media Teater (mas Taufik) dan musik.

Begitu bahagianya mereka melihat kami pertama kali menjenguk mereka di basecampnya…rumah yang sederhana namun cukup memadai untuk dijadikan tempat berkumpul. Di dindingnya terpampang karya-karya tulis mereka, suara hati mereka dan rasa kasih sayang diantara mereka yang mereka coba ungkapkan dengan puisi, pantun ataupun cerpen. Malu aku ketika ingat betapa aku belum menyelesaikan tugas mading untuk kampusku tercinta, FIB.

Akhirnya aku menemukanmu “Hafara”. Allah mempertemukan kita…apakah ini kebetulan? Apakah kebetulan ketika penjaga rental (mas heri) memberikan no.hp ku pada Mahasiswa S2 UGM yang memintaku untuk menerjemahkan tugas mahasiswa itu yang kebetulan ternyata adalah alumni S1 ISI. Kebetulan aku masih menyimpan no.hp-nya meski tak pernah menghubunginya lagi setelah terjemahan selesai…Kebetulan aku terdesak butuh seniman untuk membantu melatih anak-anak desa  bermain musik untuk persiapan pentas seni di tempat kkn-ku. Ternyata dia adalah manajer kelompok musik religi SOBAYA (terdiri dari para alumni dan mahasiswa ISI) dan mereka pun langsung menyanggupi untuk membantuku dan…kebetulan lagi kalian (Hafara) adalah salah satu kelompok binaan SOBAYA dan ternyata kebetulan pula akhirnya SOBAYA menyarankan untuk mengajak kalian ikut pentas di kkn-ku sehingga aku mengenal kalian.

Allah punya rencana dari pertemuan kita…bukan kebetulan…

Aku yang Menemukanmu (kalian) atau kalian yang Menemukanku

Aku duduk bersama di ruangan berukuran sekitar 3X2 meter, berkumpul untuk mulai membahas agenda latihan teater yang selama Ramadhan istirahat selama 1 bulan. HAFARA kini bertambah semarak dengan ikut bergabungnya anak-anak daerah KASIHAN mulai hari itu. Anak-anak yang masih sekolah SD dan SMP juga anak-anak jalanan beserta keluarganya itu duduk berdesak-desakan memenuhi ruang. Kami mengobrol dan saling memperkenalkan diri. Oh ya lupa…ditemani pula dengan segelas kopi dan seteko air putih (lagi-lagi aku minum dengan borosnya menghabiskan 1 gelas kopi dan 2 gelas air putih, he2) dan juga ada jajanan di depan kami ^.^v. Ada yang kelas 4, kelas 5 sampai yang duduk di bangku SMP. Oh ya ada Koko yang SMK kelas 1, pak Nardi dan istrinya , pak Habib, Andi dan Bahlul yang kini masih mangkal di perempatan Galeri dan masih buanyak lagi yang tidak bisa kau sebutkan 1 per 1. Mereka semua unik terutama anak-anak kecilnya (kan belum lihat bagaimana nakalnya mereka, semoga ga masalah meski mereka bandel, maklum masih kecil). Dengan wajah yang memerah dan senyum malu-malu mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing. “Saya Nining kelas 4 SD…” lama kami menunggunya untuk memperkenalkan diri. Dengan wajah memerah ia melanjutkan, “cita-cita ku menjadi dokter”. Kelegaan tergambar jelas di wajahnya.

“Akhire kowe ngomong juga to Ning. Ngomong gitu aja kok lama to Ning…Ning”, ayahnya, pak Nardi, berkomentar. Dan perkenalan dilanjutkan sampai semuanya kebagian untuk memperkenalkan diri.

Setelah selesai memperkenalkan diri, kami akhirnya sepakat bahwa kita latihan setiap minggu jam 8-10 di basecamp dengan iuran per minggu 500 rupiah (karena kemampuan mereka untuk menyisihkan uang hanya segitu). Tiba-tiba Bagas (berumur kira-kira 5 tahun) lari menuju Shafitri “mbak ajarin aku mbaca sama nulis ya…?” tentu saja Shafitri menerima dengan wajah yang berbinar-binar. Sepertinya ia menemukan bakatnya yaitu menjadi magnet bagi anak-anak untuk mengajari mereka belajar.

Setelah dirasa cukup tentunya sudah ngobrol ngalor-ngidul, pukul 10.30, aku, Shafitri dan mas Taufik berpamitan untuk pulang. Di parkiran tiba-tiba…”heh arab…arab”. Aku mencari suara siapa itu. Arab? Ternyata dia memanggilku dengan sebutan itu dan aku menghampirinya. “Kok manggilnya Arab mulu sih? “ Tanyaku.

“Lha kan kamu hidungnya boros kayak Arab dan boros minum kayak unta Arab”, jelasnya tanpa wajah berdosa.

Daaaaaaa….s” tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu yang membuatku berhenti untuk melanjutkan balasan ungkapan yang harus ia terima karena menyebutku Arab. Ya, sebungkus jajanan khas Lampung, keripik pisang lapis cokelat, membuatku urung untuk membalasnya karena apapun makanan yang berhubungan dengan cokelat adalah makanan favoritku.

“Terima kasih buuuanyak nggih”. Balasku dengan senyum mengembang bagai anak kecil yang memperoleh es krim.

“Mau pulang sekarang?” Tanyanya. Aku mengangguk. “Dah tahu jalan pulangnya kan?”

“Insya Allah sudah kok, tenang aja”, jelasku.

Aku dan Shafitri pun berpamitan pulang ke Pak Habib dan Mas Taufik yang masih berbincang-bincang.

Akhirnya pertemuanku dengan Hafara pun berakhir…Tunggu dulu! Maksudku tidak sepenuhnya berakhir karena minggu depan dan minggu-minggu depan lainnya aku akan tetap bertemu dengan mereka. Dengan senyuman manis di wajah mereka dengan mimpi-mimpi yang menari di mata mereka…

Aku yang menemukan kalian atau kalian yang menemukanku…?

Yang pasti, kalian adalah anugerah terindah saat ini. Teman dan saudaraku. Aku yakin ada rencana Allah yang indah yang menanti kita karena ini bukan kebetulan. Ini bagian dari skenario Allah yang Ia tulis.

Tunggulah aku disana wahai HAFARA saudaraku karena masih seabrek rencana untuk kita penuhi demi terwujud cita.

 

Monday, October 20, 2008, morning edited at Tuesday, October 21, 2008

aku hanya berharap semua yang kami perjuangkan tak menguap sia2 paling tidak kelurusan niat kami tak mudah berubah haluan ketika kami akhirnya harus kembali ke tanah Jogja…

entah apakah idealitas yang diperjuangkan kami selama ini akan terengkuh oleh kekuasaan yang tak mampu kuhinggapi…

lagi2 hanya bisa menerima relaitas yang ada akibat dari idealitas meskipun realitas hanyalah setitik dari idealitas yang diukir membantuk sebuah impian nan indah…

lagi2 idealitas tanpa realitas hanyalah asa yang omong kosong!

Hadiri:
Seminar “Islam dalam SASTRA dan BUDAYA, orientasi PASAR atau SYIAR??”
dengan pembicara:
Izzatul Jannah (Penulis)
Fanni Rahman (Direktur Pro U Media)
Tempat Dia Auditorium FIB UGM
pukul 08-till end
Sabtu, 14 Maret 2009
Cuma 5 ribu rupiah kamu bisa dapetin
ILMU, MATERO, SNACK SERTIFIKAT
BURUAN….
CP: YENNI 085743215201
PRIMA 085235008595

()Jumat, 6 maret…. di salah satu ruang kecil di sudut gedung FIB UGM..kami…sekelompok (bukan segerombol) perempuan-perempuan berkumpul untuk diskusi…sebenarnya kajian muslimah (Karimah)…membahas lagu Letto ttg lubang di hati… lumayan yang datang sekitar 20-an mungkin di situ yang memantik seorang prima kharismanita..yang dipilih karena mereka tahu aku suka lagu letto dan seikit bikin ulasan (analisi kecil2-an)…karena bingung menghubungkanTOR acara dengan lagu Letto akhirnya aku buka dari awal discussionnya..dengan dipantik sedikit ulasan lagu dari beberapa blog di inetrnet..dan subhanallah..banyak interpretasi  muncul dari kawan-kawan…

dari mulai apa sih yang dicari dalam hidup..bagaimana memperolehnya..sampai makna akan syukur..bagaimana sebenarnya yang dicari adalah cinta kepada sang Rabb yang banyak cara untuk meraihnya..seperti sebagai seorang perempuan tentunya dengan beribadah sesuai dengan fitrahnya atau ada yang menarik dari komentar teman bahwa lubang di hai itu sebenarnya adalah sesutau yang muncul karena adanya jejak ruh yang Allah tiupkan kepada kita sewaktu awal mula kita dicipta.

Allah meniupkan Ruh-Nya…memberitahukan bahwa Rabb mu adalah Aku..namun ketika lahir orang tuanya lah yang menjadikan mereka nasrani, majusi atau Islam…kemudian jejak ruh itu yang selalu membuta lubang untuk datang kembali ke Rabb-Nya…

ada juga pendapat dari anak antro, mbak elok bahwa sesuatu yang dicari bukan selalu cinta yang sederhana atau cinta antara dua anak manusia tapi juga cinta akan harta, dunia, tahta…

namun..cinta itu punsemu…hanya  akan mengisi kekosongan dalam hati kemudian seketika lenyap…beda ketika cinta akan Rabb-nya dengan beribadah…bukan berarti akan sempurna menutup lubang itu namun cinta itu aku umpamakan sebagai sesuatu gumpalan yang makin lama akan membesar kemudian menutup lubang hati…coba rasakan ketika kita futur..itu juga termasuk lubang d hati..tapi berdasar kata teh nini bahwa futur itu penting untuk memacu kita meningkatkan iman dan ibadah..karena iman itu ga boleh stagnan…futur adalah alarm untuk kita meningkatkan ibadah. yang awalnya sholat dhuha 2 rakaat sudah cukup namun lama-kelamaan jenuh untuk kemudian ditingkatkan jumlah rakaatnya…

dasar anak2 sastra..dan budaya..klo udah bahas sastra aja semangatnya minta ampun…

semoga selalu terjaga..dan istiqomah..

amin

February, 18th 2009, Yogyakarta, by Prima

Lubang di dalam Hati…

Kubuka mata..dan kulihat dunia….tlah kuterima..anugerah cintaNya…tak pernah aku menyesali yang kupunya..tapi kusadari ada lubang dalam hati…ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini..ku menanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati..apakah itu kamu apakah itu dia…selama ini..kucari tanpa henti..apakah itu cinta apakah itu cita..yang mampu melengkapi lubang didalam hati…ku mengira…hanya dia-lah obatnya..tapi kusadari..bukan itu yang kucari..ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan..dan ku yakin kau tak ingin aku berhenti… apakah itu kamu apakah itu dia..selama ini..kucari tanpa henti..apakah itu cinta apakah itu cita..yang mampu melengkapi lubang di dalam hati… apakah itu kamu apakah itu dia..selama ini..kucari tanpa henti..apakah itu cinta apakah itu cita…yang kan mengisi lubang di dalam hati…

Ku…buka mata..dan kulihat dunia….tlah kuterima…anugerah cintaNya…tak pernah aku menyesali yang kupunya..

Rasa syukur..itu yang aku tangkap dari barisan awal lirik lagu ini..syukur ketika membuka mata menyadari akan nikmat mulai dari nikmat masih diberikan anugerah untuk membuka mata, bangun dari tidur…berapa banyak orang yang tidak diberikan lagi kesempatan untuk bangun dari tidurnya…sangat mahal terutama bagi orang yang koma dan sangat berharap untuk merasakan nikmat membuka mata…menyapa dunia…melihat indahnya dunia sebagai anugerah..apalah bersedih apalagi menyesal telah diberi nikmat anugerah hidup…bernafas…

..tapi kusadari ada lubang dalam hati..

Lubang itu tetap hadir…meski hati telah dituangkan dengan cinta melimpah akan anugerah…itu fitrah akan kurang…kekurangan yang dicari oleh hati untuk segera diisi…

ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini..ku menanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati selama ini..kucari tanpa henti..

pastilah sesuatu itu sangat berharga hingga hati ini tak jua lelah untuk terus mencari…bertanya apa yang diingin oleh hati selain cintaNya…apakah itu salah…itu fitrah..ya! itu lagi2 fitrah!

apakah itu cinta apakah itu cita..yang mampu melengkapi lubang didalam hati…ku mengira…hanya dia-lah obatnya..

pertanyaan klasik namun terus berulang dalam generasi kehidupan setiap manusia..setiap makhluk dari nenek moyang yang entah ke berapa hingga kini dan mungkin setelah generasi ini ke generasi setelah kini dan seterusnya…cinta atau cita…coba kita lihat apa jawaban yang ditunjukkan oleh bagian lirik ini: ku mengira…hanya dia-lah obatnya…apakah dia? Berdasarkan pararelisitas letak lirik …dia di sini mengarah ke cita…tapi itu hanya perkiraan pada mulanya..yang kemudian disadari oleh penulis bahwa bukan itu jawaban…karena dilanjutkan oleh lirik…kusadari bukan yang kucari…klo bukan cita..jawaban yang tersedia adalah cinta…

cinta yang bagaimana..itu tergantung dari masing-masing individu untuk melihatnya…menurut saya cinta itu mengacu kepada cinta setengah dien…kenapa? Karena menurut repertoire yang saya miliki…hati tak kan lengkap, iman tak kan sempurna tanpa cinta setengah dien…apa itu cinta setengah dien? Yah pastilah sudah dapat diketahui cinta kepada pasangan hidup..ingat, pasanagn hidup bukan calon pasangan hidup! Menurutku itu pula yang dimaksud Noe (jika dia menulis lirik lagu ini berdasarkan kenyataan hidupnya) karena sekarang Noe sedang menjalani hubungan menuju ke pernikahan dengan seorang wanita Lampung…yah ini kan analisis sederhana…setiap orang boleh pendapat namun pendapat seperti apa dan didasarkan pada apa itu juga tak boleh luput dari perhatian…

ada hal yang menarik yang mengganggu ketenangan benakku…yaitu penggunaan kata melengkapi dan mengisi untuk lirik Melengkapi lubang di dalam hati dan mengisi lubang di hati…sepengetahuanku melengkapi itu menambah jumlah yang ada..jika suatu barisan jumlah orangnya tidak lengkap maka untuk melengkapinya harus ditambah orang lagi…jadi menurutku jika kata melengkapi untuk melengkapi lubang di dalam hati berarti jumlah lubang harus ditambah…padahal yang dimaksud adalah mengisi lubang itu dengan sesuatu…

selain itu…video klipnya agak mengecewakan..karena menurutku Tuhan..Cinta..dan Cita…merupakan konsep dasar lirik lagu Lubang di Hati By Letto namun tidak bisa diakomodasi oleh video klipnya…karena orang yang melihatnya pertama kali hanya melihat akan dua cinta yang menjadi pilihan..cinta pada wanita pertama atau yang kedua…entahlah…

Thanks a lot for Letto

***


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

February 18, 2009, Yogyakarta, by Prima

Jalan Yang Hilang..Song by Letto

Merinding aku pertama kali mendengar liriknya….lirik yang menurutku tidak hanya sebatas lirik seperti lagu2 lain..bukan lirik sembarang lirik cinta picisan…meski mungkin pula si Noe tidak punya pendapat yang sama denganku…memang interpretasi semua orang tidak bisa sama karena tergantung dari repertoire yang dimiliki oleh semua orang..tapi interpretasi pun juga tak sembarang…tidak seperti kata orang kebanyakan bahwa sastra itu tidak objektif tapi subjektif…memang subjektif tapi tidak bisa dikatakan tidak objektif…maklum aku kan anak FIB…sedang belajar menelaah makna dibalik yang tersurat…mungkin ini terlalu berlebih..tapi aku mencoba untuk berbagi..berbagi apa yang aku rasa dan aku pikir…yang di rasa dan di logika kayak album edisi letto logika ini yang mengusung tema logika..

Langit tampak hitam belum juga terang aku sangat takut ku sangat pengecut mataku terpejam dan sangat berharap bukan aku yang terbuang..lampu pun temaram tak tampak terang hatiku terdiam laksana karang ketika ku coba mencari-cari jalan yang hilang…aku tak peduli apa kata orang hanyalah untukmu seluruh hidupku harus kutemukan sekali lagi jalan yang hilang…kan kutempuh di kegelapan…hidupku terasa pekat nafasku tersendat-sendat kulakukan semua itu hanyalah untukmu..ambil semua yang Kau mau hidupku pun bila perlu bolehkah ku menuju-Mu di jalan yang hilang, di jalanku yang hilang… Langit tampak hitam belum juga terang aku sangat takut ku sangat pengecut mataku terpejam dan sangat berharap bukan aku yang terbuang… lampu pun temaram tak tampak terang hatiku terdiam laksana karang ketika ku coba mencari-cari jalan yang hilang… kan kutempuh di kegelapan… hidupku terasa pekat nafasku tersendat-sendat kulakukan semua itu hanyalah untukMu… ambil semua yang Kau mau hidupku pun bila perlu bolehkah ku menuju-Mu di jalan yang hilang, di jalanku yang hilang, di jalanku yang hilang…

Langit tampak hitam belum juga terang aku sangat takut ku sangat pengecut mataku terpejam dan sangat berharap bukan aku yang terbuang

Kegelapan menurutku memang merupakan salah satu yang manusia khawatirkan..padahal itu keniscayaan yang pasti kita temui..terutama ketika kita meninggal..cahaya mulai redup..meninggalkan pandangan apalagi setelah dikubur..(meski semoga kita diberi keterangan dalam kubur)…namun kegelapan dalam hati yang paling berat dan ditakuti…gelap yang Islam coba untuk mengusirnya untuk digantikan oleh Nur Illahi…gelap itu pun pernah menghampiri pasti oleh setiap manusia..kecil..membuat hati ini kecil, kerdil karena kepengecutan rasa…gelap..dan gelap apalagi merasa terbuang…terbuang dari kawan atau orang yang kita sayangi saja bisa menjadi night mare bagi setiap insan apalah lagi jika merasa terbuang dari kasihNya…sangat mengerikan..karena setiap yang kita rasa..dan kita anggap sebagai milik kita adalah milikNya, dan membayangkan menjadi yang terbuang dari cintaNya dan trejauhkan dari segala kasih nikmatNya…

lampu pun temaram tak tampak terang hatiku terdiam laksana karang ketika ku coba mencari-cari jalan yang hilang…

Jalan itu menghilang ketika cahaya hati mulai temaram..membuat hati menjadi keras laksana karang…jalan apa yang hilang…apakah jalan itu benar2 menghilang ataukah karena cahaya hati itu mulai tak terang kita kehilangan jalan itu…jalan yang setiap orang pasti mencarinya…jalan menujuMu..

aku tak peduli apa kata orang hanyalah untuk-Mu seluruh hidupku harus kutemukan sekali lagi jalan yang hilang…kan kutempuh di kegelapan…

ya…jalan itu harus ditemukan sekali lagi! Apalah orang mau bilang apa…yang penting adalah apa yang dikatakan olehNya…tidak hanya sewaktu..satu waktu atau pada waktu-waktu tertentu..jika memang seluruh hidup adalah untuk menuju jalanNya…mencapaiNya…meski mencarinya dalam kegelapan bak mencari jarum dalam tumpukan jerami…seperti lagu Satu Cinta by Star Five: Engkau satu cinta…yang selamanya aku cari… hanya satu cinta..meski banyak cinta yang singgah atau menggoda…apalah cinta dunia,pula cinta kekasih dibanding cintaNya..seluruh hidup pun tak mampu membayar untuk satu Cinta yang dituju…

hidupku terasa pekat nafasku tersendat-sendat kulakukan semua itu hanyalah untuk-Mu..ambil semua yang Kau mau hidupku pun bila perlu bolehkah ku menuju-Mu di jalan yang hilang, di jalanku yang hilang…

yah..jangankan seluruh hidup..hidup itu sendiri pun tak apa untuk memperolehNya…meski pekat dan nafas tersendat-sendat..demi memperoleh jalan..hanya sebuah jalan…jalan untuk menujuNya…jalan yang sempat hilang ataukah tak kita tampak di mata…

jalan…aku pun teringat akan puisi The road not a taken by Robert frost…ketika suatu jalan sudah kita pilih..jangan mundur untuk berbalik…jangan lepaskan jalan itu…

by the way..thank a lot for letto…

sayang sudah dua kali ikutan kajian Maiyahan di Bantul (cak Nun) tapi belum sempet/ diberi kesempatan untuk diskusi dengan Sabrang Noe…

****

Ketika yang lalu hanyalah lembaran kemudian mengusang

Namun kisah itu masih..masih terus mengiang

Ingin ku tutup seolah memang tak tahu

Tak pernah bertemu

Rasa itu rasa yang telah lalu

Harusnya menjadi abu

Tapi rasa itu tak hilang dari kalbu

Apa yang Tuhan tulis

Harap ku mengerti

Ketika yang diharap

Melesap…

Seketika lenyap…

Ketika mimpi itu…

Asa itu…

Tidak semudah tapi mencipta ragu

Hanya bisa menunggu…

Hafara Menulis Hafara Berkisah

(Dari mengamen Jalanan jadi berakting Teater )

Blog ini kini bukan kuasaku mutlak dimana tidak hanya tulisan-tulisan hasil imajinasi, kreasi, atau tumpah ruah pikiranku yang bertahta tunggal dan absolute. Kini, blog-ku akan makin berwarna dengan pelangi yang baru, Hafara….

Tulisan yang melukiskan apa yang mereka rasa dan angan… pendaman yang tersimpan rapat di hati mereka kini mereka bagi melalui coretan-coretan tangan mereka. Hafara merupakan panti yang membina beberapa teman-teman yang sering mangkal di perempatan Galeria…ya, Mereka mengamen di bangjo Gale. Beruntunglah, kini mereka di bina di panti Hafara, dan mereka sudah tidak di jalanan…kini mereka berkreasi dalam wadah teater yang dilatih dari teman kita dari ISI.

Maaf, aku hanya bisa member sedikit gambaran tentang mereka, karena aku pun baru mengenal mereka…yah…kapan2 mungkin aku akan berkisah lengkap tentang sejarah mereka. Semoga, amiiiiin.

Berikut adalah tulisan mas Wahyu. Sekarang Alhamdulillah beliau sudah menikah dengan teman seperjuangannya di jalanan, yaitu mbak Tri. Jadi, tulisan-tulisan ini ditulis oleh sepasang suami istri muda. Saya salut dengan beliau yang menikah di usia muda. Setahu saya, mbak Tri itu jauh masih muda di bawahku,umurnya 16 tahun dan anaknya bernama dika yang masih berumur 8 bulan. Dika tu lucu lo….

Untitled by HAFARA

Sejak pertama aku menginjak jl. Solo (Galeria) ake bertemu dengan seseorang waktu itu aku belum tau namanya tapi lama kelamaan aku kenal dengan dia. Dia adalah Bahlul. Dia orangnya baik padaku. Kemana pun kami pergi selalu berdua. Susah senang kami rasakan di Jalan Solo. Sampai-sampai kami pernah kejar-kejaran sama satpol pp karna gara-gara kami mengamen di lampu merah.

Dia kejar-kejaran sama satpol pp tidak hanya sekali-dua kali tapi sudah 17X. tapi semua itu tak membuat aku takut untuk hidup di jalanan. Karna jika kejar-kejaran sama petugas. Ini sudah resiko setiap orang mengamen di lampu merah dan pada suatu hari aku kenal dengan seorang cewek. Dia adalah << Tri >>. Dia orangnya cantik and manis. Lama-kelamaan aq kenal dia lebih dalam sampai-sampai susah senang kami lalui di jalanan maklum waktu itu aku tergolong anak (OBLO) “Obrolane Bocah di Omah”. Dan Alhamdulillah sampai sekarang dia <<Tri>> masih bersamaku dan dia menjadi pendamping hidupku dan kami pun sudah berkeluarga dan kami mempunyai 1 orang anak <<dika>>. Dan Alhamdulillah aku sekarang sudah tidak tinggal di jalanan dan kami tinggal di rumah sekarang itu semua karna pertolongan seseorang. Dia adalah Chabib wibowo. Trima kasih babe dan sampai sekarang aku juga masih berteman dengan bahlul. Lul, kamu adalah teman sejatiku. Aku takkan pernah untuk melupakan semua kebaikanmu meski ku tak bisa membalas kebaikanmu. Aku doakan Tuhan yang akan membalas semua kebaikanmu. Amin. Sekian..

Jangan sampai anak-anak kita terjun ke jalan dan mengamen.

Wahyu Hafara.

Nah ini hasil karyanya mbak Tri lo…

Untitled by HAFARA

Rintihan para Pengamen Jalanan

Akulah pengamen kereta

Susah senang dan duka

Terkadang akku lalui di kereta

Terkadang kalau nasib masih baik

Mendapat uang yang lumayan

Tapi bila nasib masih apes satpam atau brimob mengejar kami dan alat kami pun disita dan menebusnya

Dan apabila mengamen di lampu merah ada

Pol pp yang selalu merampas alat yang mengamen saya

Mengapa orang korupsi tidak dicari dan ditangkap

Kenapa harus kami orang yang kecil yang dikejar-kejar seperti

Maling padahal kami hanya mencari nafkah seratus demi seratus untuk makan kami

Kami juga ingin beli baju beli celana

Pesan untuk pol pp, satpam, brimob jangan hanya kami orang yang kecil yang dikejar-kejar para koruptor dan maling kelas kakap yang pantas dihukum dan dituntaskan

INDONESIA TAKKAN MERDEKA

NARKOBA PEMBUNUH BANGSA

KORUPSI BIKIN RAKYAT Z-KARAT

MASYARAKAT MISKIN DICEKEK

INDONESIA MENANGIS LAGI

SEMUA PEMIMPINKORUPSI

PANTUN

Jalan-jalan ke Sulawesi

Jangan lupa beli ikan kakap

Sudah banyak pejabat korupsi

Tapi kenapa tidak ditangkap

Pantun

Jalan-jalan ke kota Jogja

Cuma beli mangga

Susah senang dip anti hafara

Kita lalui bersama

Buah mangga

enak rasanya

Dika manja

Tri Ibunya

Join with us dalam

SEKOLAH MENULIS: Dari FIKSI sampai SKRIPSI dengan trainer :

Yusuf Maulana (editor Pro U) untuk non Fiksi (2,9,16 nov)

tim FLP(23, 30 nov dan 7 des 08):

1. Nova Ayu Maulita (penulis cerpen majalah Annida)

2. Isti Anindya-bintang Az-Zahra (Bias Nuansa Jingga)

3. Ika R.Wulandari (Ketua FLP)

Tempat: Gedung Purbatjaraka Lt 2, FIB UGM

Tanggal: 2,9,16, 23, 30 nov dan 7 des 08

Fasilitas: blocknote, alat tulis, handout, sertifikat, snack

Pendaftaran: Rp. 35.000

By: HUMANIKA – LEM (Lembaga Eksekutif Mahasiswa) FIB UGM

Cp:

085235008595

085292402809

08191447027

Yang Terhormat PANSUS RUU PORNOGRAFI

Mendukung RUU Anti Pornografi

Saya sebagai mahasiswa UGM yang melihat dan mengetahui juga mendengar masalah UU anti Pornografi memandang sangat perlu untuk disah-kannya RUU anti Pornografi.

Saya menyadari bahwa banyak segelintir masyarakat yang kontra dengan RUU tersebut, namun menurut saya tetap RUU anti pornografi penting untuk segera disahkan yang selama ini terkesan maju mundur tidak jelas kapan diputuskan atau tidak.

Saya pikir pengesahan RUU antipornografi sangat penting terutama bagi generasi muda terutama anak-anak kecil yang sering menonton televisi atau sering menerima informasi dari berbagai media yang kini lebih banyak mengandung pornografi. Okelah mungkin ada yang mengatakan bahwa kita (orang dewasa) seharusnya bisa memfilter apa yang diterimanya tapi masalahnya yang terjadi adalah anak-anak kecil sampai remaja yang tentunya belum bisa memfilter dengan baik apa yang mereka terima dari media (terutama yang mengandung Pornografi) bahkan meniru mentah-mentah apa yang mereka lihat atau dengar. Beberapa akan berdalih dengan mengatakan itu adalah tanggung jawab orang tua dan instansi pendidikan bagaimana menyaring media yang baik bagi mereka. Tentu saja hal ini tidak bisa berjalan dengan baik karena pengawasan orang tua atau dan guru tidak bisa seratus persen karena melihat keadaan kondisi sosial yang menuntut orang tua untuk lebih banyak di luar rumah karena tuntutan ekonomi yang semakin meningkat dan sangat mustahil bila guru harus menjaga mereka sepanjang hari karena akses media kini semakin mudah dan murah.

Bagaiman bisa mencetak generasi penerus bangsa yang bermoral baik dan luhur jika mereka sejak kecil sudah menikmati pornografi. Bagaimana bisa seorang yang menganggap dirinya sudah dewasa (sudah bukan remaja berdasarkan umur) bisa memfilter mana media atau tanyangan pornografi yang tida patut dicontoh jika sedari kecil mereka dicekoki dengan hal-hal yang pornografi.

Kita berkoar-koar bahwa Indonesia harus segera bangkit dari degradasi moral tapi ketika ada rancangan UU yang mencoba membenahi moral tersebut kok malah orang-orang berduyun-duyun menolak rancangan itu tanpa memberikan kesempatan RUU itu untuk dijalankan. Ayo dicoba dulu baru komentar jangan takut nanti bagaimana kalau dijalankan budaya akan begini begitu kebebasan berekspresi akan menurun dan begini begitu lainnya tapi yang penting bagaimana nanti! Kalau ternyata kurang berhasil ya mari bersama-sama membenahi. Bagaimana bisa dibetulkan kalau belum melihat hasilnya seperti apa. Boleh saja mengatakan isi kurang baik tapi mana solusinya tidak hanya merongrong tanpa memberikan solusi nyata.

Mari Bersama Bersatu Mewujudkan Manusia Indonesia yang bermental Baja Bermoral Luar Biasa (Baik dan Luhur)